banner 728x210

Hutan Areal Konservasi Prof. Sumitro Djojohadikusumo (AK-PSD): Potret Pelestarian Alam di Tengah Hamparan Perkebunan Sawit

  • Bagikan
banner 468x60

DHARMASRAYA,JURNAL10.COM–Pesatnya pertumbuhan perkebunan komoditas Kelapa Sawit kerap menyisakan masalah yang tak kunjung habisnya dan selalu menceritakan tentang drama konflik antara manusia dengan manusia ataupun manusia dengan lingkungan sekitar.

Penebangan hutan besar-besaran sebagai dampak prilaku alih fungsi lahan menjadi perkebunan yang dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem di suatu kawasan adalah salah satunya dan masih belum bisa diatasi hingga saat ini.

Hal itu terjadi karena rendahnya rasa kesadaran pemilik atau pengguna lahan akan pentingnya menjaga kelestarian ekologi dalam mengembangkan ekonomi baik secara mikro maupun makro.

Akibatnya, tak hanya akan menciptakan persoalan sosial kemasyarakatan namun jauh lebih dalam dari pada itu semua, yakni terjadinya konflik antara manusia dengan unsur alam baik flora maupun fauna.

Tak jarang kita mendengar belakangan ini tentang cerita konflik antara manusia dengan hewan liar yang harus memanfaatkan insting membela diri untuk bertahan hidup akibat rantai makanan yang terputus dan habitat yang terganggu atau bahkan terpicunya potensi bencana alam akibat kelalaian dalam memperlakukan alam itu sendiri.

Namun, hal itu seakan terbantahkan ketika penulis mengunjungi kawasan perkebunan PT Tidar Kerinci Agung (TKA) yang berada di Nagari Talao Sungai Kunyit, perbatasan Kabupaten Dharmasraya, Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Bungo Provinsi Jambi.

Sangat biasa di awalnya, sebuah perjalanan cukup melelahkan dengan pemandangan hamparan perkebunan kelapa sawit, jalan produksi, pabrik dan jejeran truk pengangkut tandan buah segar serta mobil tanki pembawa minyak kelapa sawit terpampang disini.

Hingga mendekati jantung kawasan tersebut, ada pemandangan tak biasa dan jauh dari pandangan umum kelaziman sebuah kawasan perkebunan, dalam kejenuhan itu kita mendadak disuguhkan oleh hamparan hutan asri dengan bentang sungai berair jernih cukup memanjakan nurani yang gersang.

Hutan Areal Konservasi Prof. Sumitro Djojohadikusumo (AK-PSD) begitu ia dimonumenkan, nama yang diambil untuk mengenang seorang tokoh nasional begawan ekonomi yang berhasil menemukan sistem ekonomi gerakan benteng yang bertujuan untuk memberi lisensi impor bagi pribumi dan telah memberikan sumbangsih terbesar dalam hidupnya untuk Bangsa Indonesia.

Dikatakan, Manajer Sustainability PT TKA, Huzri Yedi, luas areal Hutan Konservasi yang dibina pihaknya mencapai 2.400 hektare dari total HGU 28.065 ha, dan yang ditanami kelapa sawit seluas 18.000 hektare dengan areal dominan berada di Kabupaten Dharmasraya.

“Kawasan tersebut pada berada dalam areal Hak Guna Usaha PT TKA yang bisa diolah menjadi kebun Kelapa Sawit, namun ketika pemilik kebun sebelumnya, Hashim Djojohadikusumo melihat areal tersebut masih asri maka pihak manajemen diperintahkan untuk mempertahankan hutan tersebut dan menjadikannya kawasan Hutan Konservasi,” jelasnya.

Hingga, lanjutnya, upaya konservasi pun mulai dideklarasikan pada 2006-2007 oleh pengelola yang lama dengan memanfaatkan sisa HGU perusahaan tersebut yang tadinya direncanakan untuk perkebunan, setelah mendengarkan pendapat baik sisi finansial dan kesejahteraan karyawan jika lahan tersebut tidak dijadikan areal kebun.

“Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia pun meminta kawasan tersebut dikembalikan ke bentuk asal melalui penanaman hutan kembali karena kala itu sudah terlanjur dilakukan pembukaan areal seluas 100 hektare, ” sebutnya.

Menurutnya, disamping memenuhi regulasi yang mewajibkan setiap perusahaan pemilik HGU menyisakan lahan kawasan konservasi hutan yang secara besaran tidak diatur luasannya, langkah tersebut murni untuk mewujudkan visi perusahaan yang tetap memegang teguh upaya pelestarian ekosistem lingkungan dalam kegiatan ekonomi yang dilakukan.

Karena menyadari bahwa upaya konservasi membutuhkan ahli dari akademisi, pihak PT TKA pun menjalin kerjasama dengan pihak akademisi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, yang kala itu Dr Wilson Novarino dipercaya menjadi ketua tim penelitian.

“Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh tim tersebut, ditemukan sebanyak 205 spesies tanaman dan diantaranya terdapat beberapa tanaman langka dan fauna jenis mamalia sekitar 30 jenis dengan mayoritas statusnya adalah hewan yang dilindungi salah satunya Harimau Sumatera, Tapir, Beruang Madu, Kucing Emas, Rusa serta dua jenis hewan spesies primata yakni Siamang dan Ungko,” ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, tim tersebut juga mendeteksi keberadaan spesies burung langka sebanyak 35 jenis, seperti burung Rangkong yang ditemukan sebanyak delapan species dari sembilan species Rangkong Sumatera dan ikan air jernih dan beraliran deras sebanyak 20 spesies karena masih terawatnya areal tangkapan air di sekitar hutan tempat berhulunya empat sungai besar yakni Sungai Jujuhan, Sungai Mangun, Sungai Suir dan Sungai Asam.

Ia mengatakan, dengan dasar keberhasilan penelitian untuk mendata spesies yang ada, maka kawasan tersebut diresmikan sebagai kawasan Hutan Konservasi pada Agustus 2008.

“Kemudian seiring perubahan regulasi pada industri Kelapa Sawit, pada 2013 PT TKA mengikrarkan diri untuk ikut mengajukan sertifikasi ISPO ke pihak Pemerintah melalui lembaga independen yang ditunjuk, yang salah satunya syarat yang harus dipenuhi adalah terkait komitmen perusahaan terhadap keberlangsungan pelestarian ekosistem dan lingkungan hidup,” ulasnya.

Selain disertakan sebagai pemenuhan syarat mendapatkan sertifikasi ISPO, kawasan itu juga dibuka sebagai kawasan penelitian bagi kalangan akademisi dan Perguruan Tinggi melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak PT. TKA dan Jurusan Biologi FMIPA Unand. Beberapa tahun kemudian MoU ini berkembang menjadi tripartit, dengan tambahan Yayasan Arsari Djojihadikusumo (YAD).

Pada tahun yang sama, pihak Bapedalda Sumbar juga mengusulkan Hutan Konservasi Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo untuk diikutsertakan sebagai calon penerima anugerah Kalpataru.

“Alhamdulillah penghargaan Kalpataru dari Presiden RI pun bisa diraih berkat kerja keras semua pihak pada 2014, untuk kategori pembina lingkungan, ” sebutnya.

Saat ini, Hutan Konservasi tersebut diketahui telah memberikan andil bagi dunia pendidikan tinggi dan sukses mengantarkan sebanyak 20 mahasiswa meraih gelar Sarjana (S1) dan 5 orang meraih gelar S2 yang mengambil segment penelitian di kawasan itu.

Sejak itu, Huzri Yedi yang seorang alumni Sarjana Pertanian Unand, pada periode 2014-2019 sering diundang sebagai pembicara terkait pelestarian hutan dalam kawasan perkebunan kelapa sawit yang kelak akan menjadi catatan indah hidupnya karena menyaksikan ketika upaya Pelestarian Hutan dan Ekosistem lahir dari nurani yang murni seorang pimpinan bijak, disambut sistem yang baik dan dukungan semua pihak sebagai pendukung utama ternyata dapat memberikan manfaat besar bagi dunia.

Pada saat terjadinya peralihan manajemen perusahaan pada November 2018, pihak manajemen yang baru pun memutuskan untuk tetap meneruskan upaya pelestarian Hutan Konservasi Sumitro Djojohadikusumo tersebut. Dan pada tahun 2019 atas saran dari dinas terkait, terdapat sedikit perubahan nama kawasan menjadi Areal Konservasi Prof. Sumitro Djojohadikusumo (AK-PSD).

“Manajemen menjadikan kawasan tersebut sebagai Ikon Group usaha yang ramah lingkungan dan berkomitmen turut mengupayakan pelestarian ekosistem dalam areal perkebunan, ” tegas Manajer Sustainability PT TKA, Huzri Yedi.***

banner 336x280
Penulis: Rully FirmansyahEditor: Rully Firmansyah
banner 120x600
  • Bagikan