Palembang – Upaya memperkuat budaya baca dan membangun ekosistem literasi yang inklusif terus dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Hal ini ditandai dengan digelarnya Sosialisasi dan Workshop Festival Literasi Nyalanesia Sumsel #2 di Aula Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (10/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan literasi serta kolaborator dari komunitas dan platform digital.

Dalam kegiatan tersebut, tim Nyalanesia yang dihadiri Advisor Nyalanesia, Imam Subhan menyerahkan buku secara simbolis kepada Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Fitriana, S.Sos., M.Si. Penyerahan ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah dan komunitas literasi dalam memperkaya koleksi bacaan sekaligus mendorong semangat menulis di kalangan masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Fitriana, menegaskan bahwa kehadiran Festival Literasi Nyalanesia Sumsel #2 merupakan bagian dari komitmen daerah dalam menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan dan berkemajuan. Ia menyampaikan bahwa program dan layanan perpustakaan di tingkat provinsi diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kabupaten dan kota. “Kami menyambut baik kolaborasi dengan Nyalanesia. Bapak Gubernur juga memberikan apresiasi besar terhadap gerakan literasi yang terus berkembang di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Fitriana menjelaskan, Pemerintah Prov. Sumsel sendiri telah menyelenggarakan Festival Literasi selama lima tahun berturut-turut. Festival ini tidak hanya berfokus pada literasi baca-tulis, tetapi juga mengacu pada sembilan jenis literasi dan melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan. Bahkan, perpustakaan Sumsel juga terus berinovasi dengan menyiapkan peluncuran naskah kuno sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya.
Komitmen terhadap literasi inklusif juga menjadi perhatian khusus. Sumsel menjadi salah satu daerah yang mengembangkan layanan bahasa isyarat di perpustakaan sejak 2022, yang kemudian mendapat apresiasi dari Duta Besar Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, penguatan duta literasi hingga ke tingkat kabupaten/kota juga terus dilakukan dengan melibatkan peran para istri kepala daerah dalam mengembangkan literasi berbasis inklusi sosial.
Di sisi lain, kolaborasi dengan Nyalanesia semakin memperkuat transformasi literasi menuju era digital. Platform Nyalanesia.id dinilai mampu mengintegrasikan dunia literasi dengan teknologi, membuka peluang bagi masyarakat untuk berkarya, berbagi, dan memperluas jangkauan tulisan hingga tingkat global. “Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus momentum untuk meningkatkan kualitas literasi di Sumatera Selatan,” tambah Fitriana.
Dia berharap, melalui kegiatan sosialisasi dan workshop ini, Festival Literasi Nyalanesia Sumsel #2 diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi, memperluas gerakan literasi, serta membangun masyarakat Sumatera Selatan yang cerdas, kritis, dan adaptif menghadapi tantangan global.

Sementara itu, Imam Subhan dalam sesi workshop menekankan pentingnya kesiapan mental dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi tantangan di era informasi. Menurutnya, literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga melatih otak untuk mengambil keputusan secara tepat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, termasuk dalam menghadapi arus informasi di media sosial. Ia juga mengangkat isu kepemimpinan dan manajemen krisis sebagai bagian dari penguatan kapasitas individu di era digital. (*).













