PendidikanSumsel

Dinas Perpustakaan Sumsel Dorong Inklusivitas Lewat Pekan Literasi Bahasa Isyarat

×

Dinas Perpustakaan Sumsel Dorong Inklusivitas Lewat Pekan Literasi Bahasa Isyarat

Sebarkan artikel ini

JURNAL10, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melalui Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan menggelar Pembukaan sekaligus Launching Pekan Literasi Bahasa Isyarat dalam rangka memperingati Hari Tuli Nasional yang diperingati setiap 11 Januari. Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (15/1/26) dan mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan.

Acara ini turut dihadiri Duta Literasi Sumsel yang juga anggota DPD RI, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, M.M., Ketua TP PKK Provinsi Sumsel Hj. Febrita Lustia Herman Deru, Ketua BKOW Provinsi Sumsel Hj. Lidyawati Cik Ujang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Sumsel Hj. Desi Kasnayati Edward Chandra, para pengurus organisasi wanita, komunitas perempuan dan anak, Ikatan Pustakawan, serta tamu undangan lainnya. Hadir pula sebagai narasumber Ketua GERKATIN, Desi Ana Amelia.

Duta Literasi Provinsi Sumsel, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, M.M.
Duta Literasi Provinsi Sumsel, dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, M.M.

Dalam sambutannya, Ratu Tenny Leriva yang akrab disapa Kak Iva menyampaikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel dan seluruh pihak yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa Pekan Literasi Bahasa Isyarat merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam membangun ruang komunikasi yang inklusif dan setara.

“Kehadiran kita hari ini adalah bentuk kepedulian dalam membangun ruang komunikasi yang lebih terbuka, menjunjung kesetaraan, dan menghargai perbedaan. Bahasa isyarat bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi jembatan empati dan wujud penghormatan terhadap keberagaman,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penyandang disabilitas Tuli memiliki hak yang sama dalam mengakses informasi, pendidikan, dan layanan publik, termasuk layanan perpustakaan. Karena itu, perpustakaan sebagai pusat literasi dan pembelajaran sepanjang hayat memiliki tanggung jawab menyediakan layanan yang ramah dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Kak Iva mendorong agar ke depan digelar pekan-pekan literasi tematik lainnya, seperti Pekan Literasi Budaya, Literasi Finansial, maupun Literasi Digital, guna memperluas cakupan edukasi kepada masyarakat.

Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Fitriana, S.Sos., M.Si.
Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Fitriana, S.Sos., M.Si.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Fitriana, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa perpustakaan memiliki lima fungsi utama, yakni pendidikan, penelitian, informasi, rekreasi, dan pelestarian budaya.

Menurutnya, kegiatan Pekan Literasi Bahasa Isyarat merupakan bagian dari fungsi pendidikan yang bertujuan memperkenalkan serta memasyarakatkan literasi bahasa isyarat kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Kegiatan ini juga bertujuan memberikan kesetaraan kepada teman-teman Tuli, baik dalam akses informasi maupun peran dalam pembangunan. Selain itu, kami ingin mendorong lahirnya juru bahasa isyarat baru sehingga dapat membuka peluang kerja,” jelasnya.

Fitriana juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadi provinsi pertama dan satu-satunya yang mempekerjakan delapan penyandang disabilitas Tuli sebagai ASN P3K. Langkah ini menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam mendorong kesetaraan kesempatan kerja.

Rangkaian Gerakan Literasi Bahasa Isyarat sebelumnya telah dilaksanakan dalam berbagai kegiatan, di antaranya peluncuran resmi oleh Gubernur Sumsel H. Herman Deru pada 20 Februari 2022 di Taman Budaya Palembang, workshop bahasa isyarat bersama Duta Literasi Sumsel, serta kerja sama dengan LRT Sumsel dan PT Grab Indonesia.

Inovasi Gerakan Literasi Bahasa Isyarat tersebut turut mengantarkan Provinsi Sumatera Selatan meraih penghargaan Innovative Government Award (IGA) tingkat nasional dan menjadi Juara I pada tahun 2023.

Melalui Pekan Literasi Bahasa Isyarat ini, Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel berharap organisasi perempuan dan berbagai komunitas yang hadir dapat menginisiasi kegiatan serupa di lingkungan masing-masing, sehingga semangat inklusivitas dan kesetaraan semakin meluas di tengah masyarakat. (Adv).