BeritaPalembang

Bangun Disiplin Tanpa Kekerasan, SMAN 11 Palembang Terapkan Pendekatan Humanis kepada Siswa

×

Bangun Disiplin Tanpa Kekerasan, SMAN 11 Palembang Terapkan Pendekatan Humanis kepada Siswa

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, Jurnal10.com – SMA Negeri 11 Palembang terus memperkuat budaya disiplin melalui pendekatan yang humanis. Sekolah menegaskan bahwa ketegasan dalam mendidik tidak harus identik dengan sikap keras, melainkan diwujudkan melalui konsistensi penerapan aturan, pembiasaan karakter, serta komunikasi yang baik antara guru dan siswa.

Komitmen tersebut ditegaskan Kepala SMA Negeri 11 Palembang, Sunandar, S.Pd., M.Si., saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Menurutnya, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus utama sekolah sejak hari pertama peserta didik menginjakkan kaki di lingkungan sekolah.

“Kami selalu menyampaikan kepada seluruh guru bahwa tegas itu tidak identik dengan keras. Guru bisa bersikap lembut, tetapi tetap konsisten dalam menjalankan aturan. Ketika sebuah aturan sudah ditetapkan, maka harus diterapkan secara konsisten sehingga anak-anak memahami pentingnya disiplin,” ujar Sunandar.

Ia menjelaskan, konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai pembiasaan positif yang dilakukan setiap hari. Mulai dari upacara bendera setiap Senin, penyambutan siswa oleh guru piket setiap pagi, pelaksanaan salat berjamaah di musala sekolah, hingga pemberian penguatan karakter selama lima hingga sepuluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Tidak hanya wali kelas, seluruh guru mata pelajaran juga diminta menyisipkan pesan-pesan moral dan pendidikan karakter kepada siswa sebelum memasuki materi pembelajaran.

“Karakter tidak cukup diajarkan saat MPLS saja, tetapi harus menjadi budaya sekolah yang dilakukan setiap hari. Kami ingin nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan kepedulian terus tertanam dalam diri peserta didik,” katanya.

Sunandar menegaskan, sekolah berkomitmen menjadikan SMAN 11 Palembang sebagai rumah kedua bagi seluruh siswa. Karena itu, suasana belajar harus dibangun agar terasa aman, nyaman, ramah, dan menyenangkan sehingga peserta didik memiliki motivasi tinggi untuk datang ke sekolah.

“Kalau anak merasa nyaman berada di sekolah, mereka akan semangat belajar. Itulah yang kami inginkan, menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang memberikan rasa aman dan membentuk karakter positif,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya membangun budaya disiplin, sekolah juga menerapkan kebijakan melarang seluruh siswa memarkir kendaraan bermotor di dalam lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk edukasi keselamatan berlalu lintas sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan oleh siswa yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Menurut Sunandar, pihak sekolah telah berulang kali mengimbau agar siswa yang belum memenuhi syarat tidak mengendarai sepeda motor ke sekolah. Bahkan, kepolisian pernah dihadirkan sebagai pembina upacara untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya tertib berlalu lintas.

“Kami berharap orang tua juga ikut mendukung kebijakan ini. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan keluarga. Orang tua memiliki peran besar dalam membangun kedisiplinan anak sejak dari rumah,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari terbentuknya karakter yang baik melalui kerja sama antara sekolah dan keluarga.

“Boleh saja anak memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi tanpa karakter yang baik akan sulit meraih kesuksesan. Karena itu, sekolah dan orang tua harus berjalan beriringan untuk mengantarkan anak-anak mencapai cita-citanya,” tutup Sunandar.