banner 728x210

Bandit Sosial

  • Bagikan
banner 468x60

OPINIKehidupan adalah panggung teater paling tradisional sepanjang umur manusia. Di panggung itulah berbagai peran dimainkan, dan mungkin lebih tepat pertunjukan tersebut diberi judul “the humans”. Salah satu peran paling tua dalam sejarah umat manusia, adalah mereka pekerja seks. Peran yang dimainkan para wanita-wanita itu lebih dikenal dengan lonte di negara kita. Ada peran lain yang cukup menarik untuk dibicarakan, yakni mereka para bandit.

Tentu kita akan marah, bila mendengar kabar berita atau menyaksikan langsung tindakan kejahatan. Dan kepada merekalah umpatan-umpatan buruk itu kita sematkan, semisal rampok, maling, pencoleng, bangsat, bajingan, bandit serta sebutan lain yang sepadan.

Di Indonesia, membicarakan kata bandit, kita akan mengingat tokoh seperti Ken Arok yang bertabiat terkutuk. Namun pada akhirnya dia mati dikenal sebagai pahlawan. Kisahnya pun diabadikan Pramoedya Ananta Toer dalam karya fiksinya. Ada pula cerita klasik lain, sebuah cerita khayali dalam kaba orang Minangkabau, Siti Baheram yang ditulis Syamsudin Dt. Rajo Endah. Kekinian di negeri kita, peran tokoh-tokoh itu digantikan dengan lakon-lakon baru yang juga melegenda. Sebut saja Hercules, Jhonny Indo, Kusni Kasdut dan beberapa lainnya.

Kalau kita baca pula kabar lain dari belahan dunia tentang perangai seumpama mereka, akan kita temukan nama-nama seperti Ned Kelly di Australia, Pancho Villa di Meksiko, Billy the Kid di Amerika, Salvatore Giuliano di Italia yang dikenal dengan peristiwa perampokan paling beradab yang pernah ada. Dan masih banyak lagi kisah dan kabar yang bercerita orang serupa mereka.

Kalau perangai seperti itu dilabeli preman agaknya kurang tepat pula. Meski apa yang dilakukan itu berkaitan dengan kebebasan (semaunya) bertindak. Sebagaimana kata Vrijman dalam bahasa Belanda. Mereka membebaskan diri dari segala aturan yang mengikat. Melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dicap sebagai norma oleh kaum moralis.

Tapi saya memilih kata bandit saja dengan alasan cakupannya yang cukup luas dan lebih kompleks akan pemaknaannya. Meski saya tak begitu mengetahui asal-usul kata bandit ini. Merujuk KBBI, bandit didefinisikan sebagai tokoh yang melakukan kejahatan. Artinya bandit dalam maknanya tak sebatas maling, rampok atau rompak atau sekedar kejahatan biasa. Tindakan kejahatannya lebih komplet daripada itu.

Syahdan, Eric J. Hobsbawm dalam bukunya Bandits (1971) mengungkapkan, “Di mata hukum, setiap orang yang menyergap dan merampok dengan kekerasan adalah bandit,”. Menurut Hobsbawm, satu bandit dengan yang lain bisa amat berbeda sekalipun mereka melakukan pekerjaan yang sama. Hobsbawm memberi pengistilahan dengan kata “Bandit Sosial”. Hobsbawm berupaya menjelaskan kata itu sebagai bentuk pemberontakan minoritas atau individual di dalam masyarakat petani.

Perlu kita cermati bahwa bandit-bandit itu tidak lahir begitu saja. Munculnya karena sebuah kondisi terancam dan tertindas atau yang disebut dengan ketidakadilan, sesuai dengan definisi yang dikemukakan Hobsbawm.

Saya kembali memutar ingatan akan karya Todd Phillips, Joker. Bagaimana seorang Joker terlahir dari rasa pilu, ketidakpedulian, dan kejamnya kehidupan yang dilalui Artur Fleck (Joaquin Phoenix). seorang komedian gagal. Ia hidup di era ketika Gotham dalam titik kronis, penuh ketimpangan, dan kemarahan pada 1980-an. Sehingga itulah yang kemudian menjadikannya sebagai bandit. Kondisi tersebut meledakkan protes dan kemarahan terhadap dirinya dan lingkungannya. Dalam kata lain interpretasi terhadap kondisi itulah yang menentukan lahirnya seorang bandit. Dari sana pula, tampak hukum tak berkutik dan tak lagi memiliki marwah.

Kendati pun sedemikian buruknya, perjalanan mereka para bandit itu cukup dramatis. Mereka diburu untuk ditahan atas nama hukum, kadang kala juga dimanfaatkan oleh penguasa yang tidak lebih baik dari mereka. Pada satu sisi, bandit menjadi semacam penyambung lidah orang-orang yang sengsara. Pada sisi lain, menjadi bandit adalah cara yang mungkin satu-satunya dapat dijangkau, untuk membebaskan diri dari kemiskinan individual dan kolektif.

Walaupun begitu, tidak untuk membenarkan tindakan mereka para bandit, hanya saja rasanya kurang adil bila mereka kita kutuk secara massif. Padahal sebuah fakta tak dapat disangkal mereka menjadi bandit disebabkan suatu kondisi lingkungan yang sedang sakit kronis.

Seperti ungkapan seorang penyair Baalbek Lebanon awal abad ke-20, “Sebagian mengutuk Nero, tetapi aku mengutuk bangsa … Setiap bangsa menciptakan Nero-nya sendiri pula.”

Ada sebuah percakapan menarik dalam karya Santo Agustinus (354-430) di dalam bukunya On the City of God against the Pagans. Ia menceritakan sebuah percakapan antara Aleksander Agung (Alexander the Great) dengan seorang bandit yang ditangkap oleh tentaranya.

Aleksander bertanya mengapa dia mengacau di lautan, dan dia menjawab: “Sama seperti alasan Anda menguasai dunia. Saya disebut bandit karena saya merompak dengan kapal mungil. Anda merompak dengan armada besar, dan Anda dipanggil kaisar.”

Berbeda tentunya, bandit yang saya sebutkan sebelumnya dengan apa yang dikisahkan Santo Agustinus. Tepat pula jawaban perompak itu, bandit di tengah masyarakat itu tidak bandit. Mereka disebut bandit karena dilabeli bandit oleh aturan dan orang memiliki kekuasaan. Namun kita lupa memberi label sama kepada para penguasa yang merampas rakyat melalui kebijakan-kebijakannya. Padahal merekalah bandit sosial sesungguhnya, tapi mengapa kita tetap memanggilnya sebagai tuan?

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan