banner 728x210

Cara Jitu Warga Kajai Tepi Selo Menjalin Silaturahmi, Manfaatkan Medsos

  • Bagikan
banner 468x60

TANAH DATAR, JURNAL10.COM – Penduduk bumi ini memiliki cara tersendiri untuk menjalin hubungan antara satu dengan yang lain, dan hampir seluruhnya mengunakan media sosial yang merupakan “platform digital” dunia di zaman ini.

Tidak ketinggalan juga untuk warga Jorong Kajai Nagari Tepi Selo, Lintau Buo Utara, mereka memanfaatkan media sosial untuk melakukan interaksi sosial secara online sesama mereka.

“Sekedar memberitahu seluruh sanak family saja, jika kampung kita sudah ada grub whatsapp, menjaga agar hubungan antara perantau dengan di kampung bisa saling berbagi informasi,” ungkap Kasman atau Ike, kepada media ini, Senin (16/05/22).

Seniman atau pengrajin senjata tradisional minang “kurambiak” ini juga mengatakan, saat lebaran atau moment tertentu, ada yang bisa pulang kampung, dan ada yang tidak. Sementara pada moment itu yang sangat diperlukan sekali hanya sekadar menyapa.

“Rasa bersaudara, ingin berbagi dan menggalang dana sosial. Tujuan utama grub “Kojai Galuang Comunity” ini, dan yang sangat penting saling bisa mengetahui keadaan masing-masing,” ujar Ike.

Memang katanya, pandemi covid-19 ini ada untung dan ruginya. Jika bicara untung lanjut Ike, akibatnya dari pembatasan sosial itu, warga saling berkomunikasi dan efeknya ketertarikan bergabungpun mulai rame sekali. Dan dari sinilah berawal, memulai ingin menyatukan seluruh warga Kojai.

Bagi warga Kajai yang ingin mengetahui kabar sanak family yang ada di Rantau dan di kampung, silahkan bergabung melalui tautan ini :

https://chat.whatsapp.com/CuwraZNCZRAFt9BIuZX07y

Mengapa harus media Whatsapp?

Salah satu aplikasi media sosial yang didirikan oleh Jan Koum dan Brian Acton ini lebih sering digunakan banyak orang untuk berkomunikasi, terutama untuk sesama rekan kerja, saudara, dan berkembang menjadi komunikasi antar organisasi, parpol, tokoh lintas agama dan lain lain.

Bukannya ingin menyampingkan media sosial sejenis seperti Telegram, Instagram, Twitter maupun Messenger, penggunaan Whatsapp lebih nyaman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seseorang dalam bermedia. Bahkan, hingga saat ini komunikasi utama di medsos ini aplikasi Whatsapp menduduki posisi terbaik.

Potensi Jorong Kajai

Sejak tahun 1950 silam, jorong Kajai ini sudah cukup dikenal masa itu sebagai kawasan penghasil perkakas atau alat dari besi atau baja. Di jorong ini banyak memproduksi perkakas lewat proses yang dinamakan “apa basi” atau apar besi. Hingga kini, masih dilakoni warga setempat sebagai mata pencarian. Namun, akibat pandemi covid-19 lalu, produktifitas agak berkurang.

Di Jorong Kajai, saat ini ada sekitar 30 buah usaha apar besi yang dikelola secara turun-temurun. Sejalan dengan makin banyaknya warga yang banting setir jadi petani, orderan perkakas pertanian pun melonjak tajam. Dan uniknya, pengerjaan apar basi ini tidak menggunakan teknologi modern atau alat-alat pabrikan tapi memproduksi perkakas secara manual mengandalkan keterampilan pengrajin.

Dan inovasi saat ini dilakukan Kasman dan warga lainnya, ia memadukan seni ukiran dengan senjata khas tradisional minang karambiak, dan sudah mulai merambah pasar luar Sumbar.

“Walau dengan modal terbatas, namun kami tetap memproduksi dengan kemampuan yang ada. Dan adanya grub warga Kajai ini, kami harapkan bisa menjadi wadah kami dalam berusaha,” pungkas Kasman. (**)

banner 336x280
Penulis: Boeng DoyEditor: Redaktur Jurnal10
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *