banner 728x210

Lonte dan Potret Masyarakat Kita

  • Bagikan
Luzian Pratama Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
banner 468x60

OPINI–Selama masih ada syahwat, selama itu sejarah pelacuran akan selalu tetap hidup. Objek syahwat itu wanita, atau kaum hawa. Mereka yang melacurkan diri disebut dengan lonte, bunga latar, kembang latar, kupu-kupu malam, pelacur, Pekerja Seks Komersial (PSK) dan beberapa sebutan lain dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Masih sangat membekas di dalam ingatan, seorang ulama tersohor di negeri ini menyebut oknum artis dengan sebutan lonte. Masih dapat ditemukan di ruang digital jejak politikus Partai Gerindra, Andre Rosiade menjebak seorang lonte di salah satu hotel di Padang. Dan yang terbaru, oknum polisi memesan seorang mahasiswi untuk memberikan “servis kamar” dengan harga cukup fantastis. Masih banyak lagi kejadian-kejadian lain yang berhubungan dengan kata lonte. Dan setiap era, pasti akan selalu ada pekerja seksual atau perempuan berlabel lonte.

Ditinjau dari segi bahasa, sebutan lonte berasal dari bahasa Jawa mengacu kepada hewan kecil serupa kumbang yang keluar sarang saat petang dan mengeluarkan bau harum (W.J.S Poerwadarminta). Lambat laun sebutan itu berkembang dan disematkan kepada para wanita penghibur yang keluar untuk mencari nafkah kala senja tiba. Lain halnya dengan Prof Gusti Anan, mengatakan kata “lonte” adalah “lonn” “tje” berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti upahan yang disayang. Tidak salah pula kiranya apa yang dikemukakan Prof. Gusti Anan, karena memang pekerjaan itu berhubungan dengan bayaran dari pemakai jasa tubuh perempuan tersebut.

Dalam perjalanan bangsa kita, lonte tetaplah berkonotasi negatif. Hal itu dikarenakan kita bangsa yang menganut budaya ketimuran. Selain itu disebabkan pemikiran warisan secara turun temurun di tengah masyarakat. Terlebih dikalangan orang kelas atas, para pejabat tinggi negeri ini, misalnya. Mereka selalu mendengungkan pemberantasan terhadap para pekerja seks, walaupun secara realitas di antara mereka juga ada yang diam-diam menjadi penikmat liukan tubuh-tubuh perempuan yang disebut “lonte” itu.

Walaupun dinilai negatif oleh umumnya manusia bangsa ini, perempuan pekerja seks yang disebut lonte itu mendapatkan nilai berbeda di kalangan seniman. Seperti dalam nyanyian Iwan Fals “Lonteku”. Lewat lagu itu, Iwan menceritakan kebaikan perempuan lonte membantu pelarian seorang residivis. Senada dengan itu dicantumkan pula dalam lagu Titiek Puspa, yang kemudian lagu itu dipopulerkan Ariel kala group bandnya masih bernama Peterpan dengan judul “Kupu-kupu malam”.

Tapi bagi saya tidak ada yang lebih indah selain untaian kalimat tentang para lonte dalam puisi W.S Rendra berjudul “Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta”. Tidak hanya itu, banyak pula dari para pelukis di belahan dunia menjadikan lonte sebagai objek yang sangat indah di atas kanvas mereka. Seniman, seolah mengatakan bahwa mereka tidak berbeda dengan kita. Apa yang mereka (lonte) lakukan juga sama halnya dengan profesi yang dilakoni banyak hewan berakal di muka bumi, sama-sama demi kehidupan.

Ada pula kisah menarik dari seorang perempuan yang disebut lonte di belahan benua lain, mantan film porno ternama di Italia, Cicciolina mencalonkan diri menjadi anggota parlemen di Roma. Dengan modal keindahan tubuh yang dia miliki, Cicciolina menyampaikan pidato menohok di hadapan publik, “Buah dadaku tidak akan melukai siapa pun, tapi peperangan Bin Laden membuat ribuan orang jadi korban,” kata Cicciliona.

Cicciolina atau yang bernama lain Ilona Staler itu berhasil duduk dua kali sebagai anggota parlemen. Dia (Cicciolina) juga mendirikan sebuah partai bernama Party Of Love bersama bintang porno lainnya. Cicciolina di kalangan para pendukungnya dinilai sebagai seorang pejuang hak-hak kaum perempuan dan kebebasan. Meskipun dia juga dinilai kontroversial oleh banyak orang.

Kita kesampingkan sejenak soal sebutan, penilaian tentang mereka dan kisah-kisah yang terjadi di kalangan perempuan disebut lonte itu. Boleh saja kita memberi stempel negatif dan menghakimi perbuatan mereka. Tapi kita sering lupa bertanya bagaimana dan mengapa mereka lahir?.

Ada banyak perempuan dengan label serupa berada di sekeliling kita. Kepada merekalah label perempuan hina itu kita sematkan. Bahkan, kesalahan yang terjadi di rumah kita tak jarang dinisbatkan kepada perempuan yang kita sebut lonte itu. Sebagaimana narasi yang dilantunkan oleh kaum intelektual, “maraknya perbuatan asusila di kalangan remaja, karena kebanyakan nonton pornografi”. Sudah barang tentu dalam adegan porno itu, perempuan berlabel “lonte”lah yang jadi pemeran utamanya. Dan memang dalam siklus kehidupan, sudah sangat lazim selalu mencari kambing hitam; siapa yang harus disalahkan. Maka maraknya perbuatan asusila pada remaja, bisa dikatakan “lonte”lah kambing hitamnya.

Dalam sebuah sinema karya Giuseppe Tornatore bercerita tentang perjalanan seorang perempuan menjadi lonte. Perempuan itu dalam perannya bernama Malena, sekaligus diabadikan menjadi judul sinema itu. Nama aslinya adalah Monica Belucci. Dia memiliki paras dan tubuh nan indah, sehingga dari kaum muda sampai ke yang tua terpikat dengan tubuh Malena. Semua pria yang bertemu dengannya, mencari kesempatan untuk meniduri Malena.

Malena disandingkan dengan seorang pria bernama Nino Scordia. Suaminya itu terpaksa dia lepas karena wajib militer. Dalam kesendirian itu, diam-diam seorang pemuda belia bernama Renato Amorroso menaruh hati karena kemolekan Malena. Sampai suatu waktu kecantikan itu menyeret Malena ke meja pengadilan. Malena dituduh telah berhubungan intim dengan suami orang. Sehingga kejadian itu membuat Malena menyewa seorang pengacara, akan tetapi dia tak memiliki cukup uang. Pengacara pun memberikan solusi, Malena bisa membayar jasanya dengan syarat tidur bersamanya.

Mau tak mau Malena harus membayarnya. Akibat kejadian itu, Malena juga dipandang buruk oleh ayahnya sendiri dan Renato yang menyukai Malena. Setelah itu, Italia digempur Jerman dan berhasil diduduki. Alhasil ayah Malena tewas dalam peristiwa itu dan Malena tinggal seorang diri tanpa memiliki uang untuk makan. Bermula dari kejadian dengan pengacara itulah, Malena, setelah daerahnya diduduki Jerman mulai menjadi perempuan nakal. Untuk makan dia harus membayar dengan tubuhnya. Ia relakan tubuh moleknya dijamah tentara Jerman, bahkan juga pria pribumi. Renato, pemuda belia yang menyukai Malena pun kecewa. Tapi ia juga paham, bahwa Malena melakukannya hanyalah untuk makan, tidak lebih.

Di sisi lain, apa yang dilakukan Malena telah menyulut api kebencian para kaum hawa. Akhirnya Malena dihukum oleh perempuan desa, ditarik, dipukul, digunduli, ditelanjangi dan diusir. Tapi kebanyakan tukang kabar, hanya fokus kepada Malena si perempuan dengan segala kemolekan tubuhnya. Tukang kabar gagal megambil sudut narasi “kenapa Malena si “lonte” lahir?. Padahal bisa dikatakan; Malena, oh.. Malena jalang, telah dilahirkan oleh masyarakat.

Sekali tidak kita melihat, Malena lonte harus membayar seorang pengacara dengan tubuhnya. Malena terpaksa “melonte” karena tidak memiliki cukup uang untuk mengganjal perutnya yang lapar. Malena menjadi lonte, juga karena keinginan laki-laki pribumi yang sejak awal bermimpi bisa menikmati tubuh indahnya.

Ada kisah lain tentang perempuan lonte dalam sebuah roman yang ditulis Muhidin M. Dahlan “Tuhan izinkan aku menjadi pelacur”. Muhidin dalam roman ini berkisah tentang seorang wanita muslimah yang menempuh perkuliahan S1 di sebuah kampus di Yogyakarta. Namanya Nidah Kirani dipanggil Kiran. Ia adalah perempuan berjubah dan seorang pengikut organisasi islam. Kirani dalam kesehariannya tinggal di sebuah pondok pesantren. Kehidupannya pun dihabiskan dengan berzikir dan membaca Alquran. Namun setelah ikut salah satu organisasi Islam, Kiran dinilai tidak lagi sesuai dengan ajaran pondok, dan mengharuskannya dikeluarkan dari pondok pesantren itu.

Kemudian Kiran memilih tinggal di Pos Jamaah organisasi yang diikutinya. Rupanya, apa yang selama ini di pikiran Kiran berbanding terbalik saat dia benar-benar sudah berada di dalam lingkungan organisasi yang dia ikuti. Perempuan-perempuan di Pos Jamaah tidak mengaji, disibukkan dengan dengan tontonan televisi, membicarakan para bujang, bahkan tidak salat. Meski hal itu membuat nuraninya bergejolak, namun perlahan Kirani juga terpengaruh dan mulai melakukan hal-hal yang sama. Harapan kirani ingin menjadi hamba tuhan yang sholeha pupus.

Karena pergolakan batinnya sudah memuncak, akhirnya Kirani kabur dan pindah ke sebuah indekos. Dan di sana pula pertama kali Kirani melakukan hubungan seksual dengan Hudan, teman sama organisasi itu. Ada satu hal yang diingat Kiran tentang ajaran dalam organisasi yang dia ikuti, “yaitu mengumpulkan dana dibolehkan dengan cara mencuri, menipu bahkan melacur”. Pendek kisah, Kiran yang telah terjerumus dengan hubungannya pertama kali itu, membuat dirinya merasa hancur dan pupus untuk menjadi hamba tuhan yang taat. Alhasil untuk melanggengkan urusan skripsinya, Kiran mengambil siasat dengan menggoda dosennya untuk berhubungan intim. Tidak hanya itu, ucapan Kiran untuk memasuki dunia pelacuran diamini dosennya. Entah berapa laki-laki yang sudah menikmati tubuh Kiran. “Tuhan lihatlah aku! Aku sudahi pemberontakan ini kepadamu,” kata Kiran diujung kekecewaannya.

Penganut historisme dan kaum moralis, tentu akan sangat sepakat bahwa Malena dan Kiran adalah wanita lonte yang hina dan patut dihukum bahkan dikutuk. Padahal mereka lahir karena masyarakat itu sendiri. Tapi siapa yang akan berani menyalahkan masyarakat atas apa yang terjadi? Tidak, hanya Malena dan Kiran yang salah.

Di sebuah tempat di belahan dunia, lonte itu adalah Malena, di negeri ini lonte itu adalah Kiran, dan masih banyak perempuan berlabel lonte selain keduanya. Tapi tidak satupun yang akan berani mengutuk tempat yang menyebabkan keduanya lahir.

Padahal, tidakkah Malena dan Kiran serta perempuan-perempuan berlabel lonte itu lahir disebabkan masyarakat yang sama buruknya? ***

Penulis : Luzian Pratama Mahasiswa Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan