banner 728x210

Miris! Seorang Guru Ngaji di Aia Angek Tega Cabuli Anak Didiknya

  • Bagikan
banner 468x60

PADANG PANJANG,JURNAL10.COM — Jajaran Sat Reskrim Polres Padang Panjang menangkap satu orang pelaku pencabukan anak di bawah umur di Jorong Kayu Tanduak Nagari Aia Angek Kec X koto pada hari rabu tanggal 20 juli 2022. Pelaku berinisial ZH dan berusia 58 tahun.

Kapolres Padang Panjang AKBP. Donny Bramanto,S.I.K melalui Kasat Reskrim IPTU. Istiqlal, memgatakan, penangkapan tersebut di lakukan pada pukul 10.00 wib di Jorong Kayu tanduak, berdasarkan laporan polisi Nomor : LP/B/156/VII/2022/SPKT Polres Padang Panjang, tgl 20 Juli 2022 tentang dugaan tindak pidana Pencabulan yang beralamat di Jor. Kayu Tanduak Nag. Aia Angek Kec. X Koto Kab. Tanah Datar.

“Menurut keterangan pelapor yang merupakan orang tua korban, pangil saja bunga (bukan nama sebenarnya) bahwa hari selasa tanggal 19/7 sang anak mengadukan kepada orang tuanya bahwa bunga dan beserta tiga orang temannya mendapatkan perlakuan cabul oleh guru mengajinya ZH, yakni dengan cara memegang bagian payudara dan bagian alat kelaminya, sontak itu membuat pelapor sebagai orang tua merasa marah, setelah menemui Wali Jorong dan Ketua Pemuda setempat Pelapor langsung menuju Polres Padang Panjang untuk melaporkan perbuatan pelaku ZH,” jelas Kasat Reskrim.

Lebih lanjut Kasat Reskrim menjelaskan, saat di minta keterangan pelaku ZH yang juga merupakan mantan ASN dan juga Dosen ini mengakui semua perbuatannya, peristiwa tersebut dilakukannya di tempat ZH mengajar mengaji anak-anak tersebut, ZH juga menuturkan dalam melancarkan aksinya dengan cara meraba- raba bagian payudara dan bagian kelamin korban.

“Selain bunga yang menjadi korban, ternyata tiga orang teman bunga juga menjadi korban ZH, sehingga setelah dimintai keterangan dan mengumpulkan data-data total korban perbuatan ZH menjadi total 11 orang. Kami akan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada seluruh korban,” ucap IPTU. Istiqlal yang lebih kurang 2 minggu lalu menjabat senagai Kasat Reskrim di Polres Padang Panjang.

Saat ini ZH telah mendekam diruang tahanan Polres Padang Panjang untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Untuk pelaku ZH dikenakan Pasal 82 ayat 1 jo 76e UU perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun, tutup Kasat Reskrim IPTU. Istiqlal.

Praktisi Hukum Sorot Kasus Cabul

Sementara itu praktisi hukum Romi Martinius sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa para generasi muda dengan menjadi korban prilaku menyimpang seorang oknum guru mengaji tersebut.

Ia meminta agar pemerintah harus serius dalam menghadapi permasalahan dugaan cabul yang melibatkan anak-anak ini.

“Khusus untuk pemerintah administrasi Tanah Datar dan Padang Panjang melalui dinas sosial agar lebih serius dalam menangulanggi efek terhadap para korban perkara cabul yang terjadi. P2 TP2A harus pro aktif menyikapinya dengan mendatangi rumah para korban bersama psikologis anak, yang kalau tidak salah dalam perkara ini sudah berjumlah puluhan orang,” ungkap pengacara ini.

Ia menambahkan, pengembalian utuh moril dan mental para korban harus menjadi fokus perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah. Hendaknya pemkab dan Pemko kedepan juga mengangarkan sebagai dana taktis jika terjadi hal- hal menyangkut kekerasan seksual kepada anak khususnya para korban, sampai para korban dapat pulih sepulihnya dari trauma psikologis dan dapat hidup sebagai anak bangsa yang sehat dan terbebas dari semua traumatis yang pernah mereka alami.

“Silahkan pemerintah daerah dapat mengeluarkan anggaran untuk program sosialisasi pencegahan perkara yang menitik fokuskan kepada terjaminnya keamanan dan keselamatan anak bangsa. Bisa dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui pendidikan kriminologi hukum kepada para orang tua dan masyarakat khususnya bentuk kejahatan yang bisa menjadikan anak-anak sebagai korban kejahatan maupun pelaku kejahatan dengan nara sumber dari aparat penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan dan para ahli psikologis anak,” sebut Romi yang berkantor di Romi Justitia & Partner ini.

Ia menerangkan, dengan adanya usaha pencegahan yang rutin dilakukan melalui agenda yang jelas berupa sosialisasi setidaknya dapat meminimalisir bentuk kejahatan-kejahatan yang akan mengorbankan anak-anak bangsa. Dan para penegak hukum dengan pengalaman dan praktik penyidikan mereka dalam perkara anak sangat mengetahui bagaimana tragisnya kejahatan anak, terutama mereka juga dapat menerangkan modus-modus operandi para terduga pelaku dalam membujuk para korbannya.

“Disini juga dibutuhkan peran para orang tua atau wali dapat menerangkan kepada anak-anak mereka guna upaya pencegahan, untuk dapat menghindari terulangnya tindak pidana yang diatur dalam UU. no 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak terkhusus Pasal 82 ayat 1 Jo pasal 76 E UU,” imbuhnya.

Dengan adanya program ini, terang Romi pada akhirnya wilayah administarsi Tanah Datar dan Padang Panjang khususnya dibawah wilkum resort dan kejaksaan maupun pengadilan negeri Padang Panjang kedepannya tidak mendapati atau terulang lagi perkara terkait kejahatan massal yang memakan korban para generasi penerus bangsa.

“Karena semangat perlindungan anak adalah kewajiban dari pemerintah ini tercantum dalam pasal 59 UU perlindungan anak : Pemerintah, pemerintah daerah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak,” terangnya. (Put)

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *