banner 728x210

Pengen Nongkrong? Ada Street Food Corners di Simpang Ampek Pasaman Baru

  • Bagikan
banner 468x60

PASBAR, JURNAL10.COM–Cuaca panas khas kawasan pesisir pantai dengan hamparan lahan perkebunan sawit serta riuhnya aktifitas kawasan perkebunan dengan segala ragam masyarakat adat yang heterogen, menjadi ciri khas daerah ini sejak dimekarkan menjadi kabupaten definitif 18 tahun silam.

Kabupaten Pasaman Barat, bumi mekar yang dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Provinsi Sumatera Barat, dengan kekentalan budaya dan istiadat nan beragam itu terlihat semakin menunjukkan eksistensi sebagai kawasan pusat pertumbuhan ekonomi.

Tak hanya tentang ramai-ramainya para pemodal menguasai luasan lahan produktif beragam komoditas, dalam perkembangannya para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di daerah itu terpantau juga sudah mendapatkan spirit baru sebagai penyangga tetap tumbuhnya gezah ekonomi mikro oleh masyarakat setempat.

Seperti yang terlihat di kawasan Street Food Corners yang berada di ruas penghubung Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat di Simpang Ampek Pasaman Baru – Kawasan Perkantoran DPRD setempat di Padang TujuhTujuh atau lazim disebut Jalur 32.

Kawasan yang sehari-harinya disibukkan dengan lalu lalangnya fungsi pemerintahan dan pelayanan publik di siang hari, pada malam harinya berubah menjadi kawasan wisata kuliner yang menjadi surga para pelaku UMKM dalam meraih rezki ditengah pandemi COVID-19.

Sebuah situasi yang berbanding terbalik karena tak terlihat lagi wajah-wajah lelah masyarakat dan kaum profesional yang menjalani rutinitas pekerjaan yang membosankan, pada malam hari tampak kegembiraan para pengunjung yang sebagian datang membawa keluarga memancar indah dan menjelma menjadi kehangatan dan keakraban.

Jejeran pedagang kaki lima serta deretan bangunan berkonsep warung tongkrongan di kawasan itu, cukup menjadi pembasuh lelah setelah seharian beraktivitas dan menjadi pengobat rindu para orangtua terhadap anak-anak mereka sambil menikmati ragam kuliner khas yang ditawarkan disana.

Dikatakan salah seorang pemilik gerai makanan di kawasan itu, Sulung, setiap hari ia bersama pedagang lainnya terus berupaya memberikan layanan prima bagi pengunjung yang didominasi kalangan milenial.

“Biasanya puncak animo pengunjung paling tinggi memang terjadi setiap akhir pekan, namun sejak diberlakukannya sejumlah pembatasan akibat pandemi COVID-19 otomatis pendapatan kami pun jauh menurun, ” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak menurunkan minat mereka untuk tetap bertahan meskipun sebagian dari pedagang sudah memilih untuk menutup usaha karena pendapatan tidak mampu lagi menutupi biaya operasional.

Salah satu kiat yang mereka lakukan, adalah dengan menjaga kenyamanan bagi para pengunjung dan tidak lupa menyediakan fasilitas pengeras suara yang bisa digunakan untuk berkaraoke.

“Penerapan standar protokol kesehatan pun tetap kami awasi ketat, diantaranya memastikan pengunjung menggunakan masker, kapasitas tempat duduk yang lega sehingga masing-masing pengunjung tetap bisa menjaga jarak serta menyediakan fasilitas cuci tangan, ” ulasnya.

Disinggung tentang kendala lain dalam usaha kuliner yang mereka jalankan, persoalan permodalan dan dukungan pihak pemerintah terkait masih belum maksimal mereka terima.

Salah satunya terkait kegiatan promosi daerah yang belum mencantumkan kawasan ini sebagai kawasan street food serta kurangnya perhatian pemerintah dalam mengatur tata letak lokasi agar lebih terlihat indah terutama di malam hari.

“Jika kawasan ini bisa dilengkapi papan promosi berupa gerbang atau semacam penanda dan didukung set dekorasi, tentu akan sangat membantu untuk meningkatkan minat pengunjung, ” sebutnya.

Sementara itu, dikatakan salah seorang pengunjung di kawasan itu, Fahrizen, kawasan tersebut merupakan pilihan utamanya untuk bersantai bersama keluarga atau sekadar kumpul bareng bersama rekan kerjanya.

“Kawasan ini sangat nyaman dan menu yang ditawarkan cukup beragam, tentu saja harga kuliner yang disini cukup terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah, ” tutupnya. ***Rully Firmansyah

banner 336x280
Penulis: Rully FirmansyahEditor: Rully Firmansyah
banner 120x600
  • Bagikan