JURNAL10, PALEMBANG – Kepala Sekolah SMA Negeri 13 Palembang, H. Ridwan Nawawi, S.Ag., M.Si., menegaskan komitmen sekolah dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan ajaran agama melalui kegiatan rutin Pesantren Ramadan yang digelar setiap tahun.
Menurut Ridwan Nawawi, kegiatan kajian Ramadan tahun ini difokuskan pada peningkatan pemahaman sekaligus praktik ibadah peserta didik, khususnya bagi siswa beragama Islam.
“Pesantren Ramadan kami laksanakan sebagai langkah meningkatkan pemahaman dan pengamalan ibadah siswa, agar mereka lebih siap menjalankan tugas sebagai makhluk beragama,” ujarnya.
Kegiatan dipusatkan di masjid sekolah dengan pembagian waktu berbeda untuk tiap jenjang. Siswa kelas X dan XI mengikuti kegiatan selama dua hari, sementara kelas XII selama satu hari dengan materi pendalaman khusus.
Materi yang diberikan menitikberatkan pada praktik ibadah sehari-hari, mulai dari thaharah atau bersuci, tata cara wudhu yang benar, hingga pelaksanaan salat sesuai tuntunan. Untuk memperkuat kualitas pembelajaran, sekolah juga melibatkan pemateri dari pondok pesantren di sekitar lingkungan sekolah.
Khusus bagi siswa kelas XII, terdapat pendalaman materi mengenai pengurusan jenazah yang diberikan pada hari terakhir kegiatan. Materi tersebut diharapkan menjadi bekal pengetahuan keagamaan yang aplikatif di tengah masyarakat.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Pesantren Ramadan kali ini tidak diisi dengan perlombaan. Pihak sekolah memilih memfokuskan seluruh rangkaian kegiatan pada penguatan pemahaman dan pengalaman keagamaan siswa.
“Untuk lomba-lomba akan kami alihkan pada peringatan hari besar Islam lainnya. Tahun ini kami benar-benar ingin memperdalam substansi ibadah,” jelas Ridwan.
Selain kajian ibadah, terdapat penambahan program pelatihan pengumpulan dan pengelolaan zakat. Setiap tahunnya, zakat warga sekolah dikelola oleh siswa yang sebelumnya telah mendapatkan pembelajaran dan pelatihan khusus mengenai manajemen zakat.
Program ini menjadi sarana edukasi praktik sekaligus pembelajaran tanggung jawab sosial bagi peserta didik.
Tak hanya zakat, sekolah juga rutin menggalang infak dan sedekah yang kemudian disalurkan ke sejumlah panti asuhan di sekitar lingkungan sekolah.
Penyaluran zakat nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa maupun tenaga pendidik dan kependidikan yang berhak menerima, tetapi juga kepada panti asuhan terdekat.
Pihak sekolah telah menerbitkan surat edaran yang mewajibkan seluruh siswa Muslim mengikuti kajian Ramadan.
Sementara untuk pengumpulan infak dan sedekah tidak bersifat wajib, melainkan berupa imbauan agar dilakukan secara bersama-sama dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Untuk siswa non-Muslim, sekolah menyediakan kegiatan khusus bekerja sama dengan Kementerian Agama, sehingga seluruh peserta didik tetap mendapatkan pembinaan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Ridwan berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kualitas pengamalan agama siswa secara nyata.
Ia mengungkapkan, dampak positif sudah mulai terasa, terutama dalam pelaksanaan salat berjamaah Zuhur di sekolah. Dengan kapasitas masjid yang cukup besar, pelaksanaan salat berjamaah bahkan kerap dilakukan hingga dua gelombang karena tingginya partisipasi siswa.
“Alhamdulillah, dibandingkan sebelumnya, sekarang kesadaran siswa terhadap kebutuhan beribadah semakin meningkat. Ini yang menjadi harapan kami, agar nilai-nilai keagamaan tidak hanya dipahami, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (DNL)















