PALEMBANG, Jurnal10.com — Peran operator sekolah kini tidak lagi sebatas melakukan input dan pembaruan data administrasi. Di tengah transformasi digital pendidikan, operator menjadi salah satu unsur penting yang menentukan akurasi data pendidikan sekaligus mendukung proses perencanaan dan pengambilan kebijakan.
Hal tersebut menjadi perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan melalui Pelatihan Peningkatan Kompetensi Operator dan Bendahara Sekolah SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Sumatera Selatan yang diikuti sebanyak 965 peserta.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Mondyaboni, SE., S.Kom., M.Si., M.Pd., menegaskan operator sekolah memiliki posisi strategis dalam memastikan seluruh data pendidikan yang dikelola satuan pendidikan benar-benar akurat, mutakhir, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Operator sekolah bukan sekadar petugas yang melakukan input data. Operator merupakan bagian penting dalam memastikan tersedianya data pendidikan yang akurat, mutakhir, konsisten, dan dapat dipercaya sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan,” ujar Mondyaboni.
Menurutnya, semakin besarnya ketergantungan pengelolaan pendidikan terhadap sistem digital membuat kompetensi operator harus terus diperkuat. Data peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana hingga berbagai kebutuhan perencanaan pendidikan kini membutuhkan pengelolaan data yang cermat.
“Prinsipnya sederhana, kebijakan yang baik harus dibangun dari data yang baik,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kesalahan atau ketidakakuratan data di tingkat satuan pendidikan dapat berdampak pada proses perencanaan. Karena itu, operator harus memahami bahwa pekerjaan yang dilakukan bukan sekadar menyelesaikan kewajiban administratif, tetapi memiliki dampak terhadap pengelolaan pendidikan secara lebih luas.
Kompetensi Operator Harus Mengikuti Perkembangan Digital
Mondyaboni mengatakan transformasi digital telah mengubah pola kerja di lingkungan sekolah. Berbagai proses pengelolaan pendidikan semakin bergantung pada aplikasi dan sistem informasi.
Kondisi tersebut menuntut operator memiliki kemampuan teknis sekaligus literasi digital yang memadai. Mereka harus mampu mengelola, memperbarui, memeriksa dan memastikan konsistensi data sebelum digunakan maupun disampaikan melalui sistem yang tersedia.
Melalui pelatihan tersebut, Disdik Sumsel mendorong peningkatan kompetensi teknis operator, pemahaman terhadap regulasi, kemampuan pengelolaan dan pemutakhiran data, serta pemanfaatan teknologi informasi dan sistem aplikasi pendidikan.
“Kompetensi harus terus diperbarui sesuai dengan perkembangan regulasi, teknologi dan kebutuhan tata kelola pendidikan,” katanya.
Namun, Mondyaboni menekankan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Operator juga harus memiliki ketelitian, disiplin dan integritas dalam menjalankan tugas.
“Kompetensi harus berjalan beriringan dengan integritas. Kemampuan menggunakan aplikasi tanpa integritas tidak cukup. Kemampuan menyusun laporan tanpa ketelitian juga tidak cukup,” ujarnya.
Kepala Sekolah Diminta Tak Lepas Tangan
Untuk memastikan kualitas data tetap terjaga, Mondyaboni meminta kepala sekolah tidak menyerahkan seluruh persoalan administrasi dan data kepada operator tanpa pengawasan.
Menurutnya, kepala sekolah tetap menjadi penanggung jawab utama tata kelola satuan pendidikan. Karena itu, proses pengelolaan data harus dibangun melalui koordinasi dan verifikasi bersama.
“Jangan sampai operator dan bendahara bekerja sendiri tanpa koordinasi dan pengawasan. Setiap data yang disampaikan harus diverifikasi,” katanya.
Ia mendorong sekolah membangun budaya kerja kolaboratif sehingga operator tidak menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap kebenaran data.
Dengan pola tersebut, data yang dihasilkan sekolah diharapkan tidak hanya lengkap secara administratif, tetapi juga memiliki tingkat validitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
965 Peserta Diperkuat Kompetensinya
Ketua Panitia, Hj. Eka Diani Hartini, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalitas operator serta bendahara sekolah dalam menjalankan tugas secara efektif, efisien, tertib, transparan dan akuntabel.
Kegiatan mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Operator dan Bendahara Sekolah untuk Mewujudkan Tata Kelola Pendidikan yang Profesional, Transparan, Akuntabel, dan Berbasis Data.”
Sebanyak 965 operator dan bendahara SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Sumatera Selatan mengikuti pelatihan tersebut.
Khusus bidang operator, materi yang diberikan antara lain peningkatan profesionalitas, pengelolaan dan pemutakhiran data pendidikan, pemanfaatan sistem informasi dan aplikasi pendidikan serta pengelolaan administrasi sekolah berbasis digital.
Sementara untuk bendahara, materi mencakup pengelolaan anggaran, pertanggungjawaban keuangan, penatausahaan dan pelaporan serta transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran sekolah.
Pelatihan dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, praktik dan simulasi, studi kasus, pendampingan teknis serta evaluasi pemahaman peserta.
Eka berharap kegiatan tersebut menghasilkan perubahan nyata di sekolah, terutama dalam meningkatkan kualitas dan akurasi data satuan pendidikan.
“Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi peningkatan kompetensi operator dan bendahara sekolah, meningkatnya kualitas dan akurasi data satuan pendidikan, serta terwujudnya tata kelola sekolah yang semakin profesional,” jelasnya.
Penguatan kompetensi operator dan bendahara tersebut pada akhirnya diharapkan mampu mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih tertib dan profesional. Dengan data yang akurat, proses perencanaan dapat dilakukan secara lebih tepat, sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar dapat menjawab kebutuhan satuan pendidikan dan peserta didik di Sumatera Selatan.












