Pendidikan

Jangan Sampai Lebih Kenal Budaya Luar, Disdik Sumsel Tanamkan Kecintaan Budaya Lokal kepada Pelajar SMK

×

Jangan Sampai Lebih Kenal Budaya Luar, Disdik Sumsel Tanamkan Kecintaan Budaya Lokal kepada Pelajar SMK

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, Jurnal10.com – Generasi muda tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik dan keterampilan teknologi. Mereka juga harus mengenal akar budaya sendiri agar tidak kehilangan identitas di tengah derasnya pengaruh budaya luar.

Pesan itulah yang ditekankan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Disdik Sumsel) melalui Lomba Cerdas Cermat, Literasi Budaya, dan Storytelling Pelajar SMK Tingkat Provinsi Sumsel yang digelar di Hotel Emilia, Palembang, Senin (2/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 2-4 November 2026, tersebut menjadi langkah Disdik Sumsel untuk memperkuat pemahaman pelajar terhadap kekayaan budaya daerah sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pelestarian warisan budaya tidak bisa dilepaskan dari peran generasi muda.

Kepala Disdik Sumsel Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd., menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi juga mencakup pemahaman terhadap lingkungan sosial, sejarah, tradisi, serta identitas budaya masyarakat.

Menurutnya, literasi budaya menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat di lingkungan pendidikan, terutama agar peserta didik tidak lebih mengenal kebudayaan luar dibandingkan kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya sendiri.

“Jangan sampai kita lebih memahami budaya luar daripada budaya sendiri. Melalui kegiatan ini, kita ingin anak-anak mengenal lebih jauh kekayaan budaya yang dimiliki Sumatera Selatan,” tegas Mondyaboni.

Ia menilai, Sumatera Selatan memiliki kekayaan tradisi dan kebudayaan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Namun, keberagaman tersebut perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi pengetahuan masyarakat tertentu, melainkan dipahami sebagai bagian dari identitas bersama.

Karena itu, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk memperebutkan gelar juara. Lebih penting dari itu, para pelajar mendapatkan kesempatan bertukar pengetahuan dan mengenal kebudayaan dari daerah lain di Sumsel.

Melalui pertemuan tersebut, pelajar dari Palembang, misalnya, dapat mengenal tradisi dan kebudayaan yang berkembang di Banyuasin, Musi Banyuasin, serta daerah lainnya. Begitu pula peserta dari kabupaten dan kota lain yang berkesempatan memperluas wawasan mengenai keberagaman budaya Sumatera Selatan.

Mondyaboni berharap, interaksi antarpeserta dapat membangun pemahaman bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan daerah yang harus dijaga bersama.

Selain itu, ia meminta dewan juri menjalankan tugas secara profesional dan objektif sehingga peserta yang meraih juara benar-benar memiliki kemampuan serta pemahaman terbaik mengenai kebudayaan Sumsel.

“Kepada seluruh peserta, saya berpesan agar mengikuti kegiatan ini dengan baik. Manfaatkan kesempatan ini untuk menambah pengetahuan dan mengenal kebudayaan daerah kita,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Plt. Kepala Bidang SMK Disdik Sumsel, Likwanyu, S.Pd., M.M., mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi bagi pelajar untuk menggali pengetahuan sekaligus membangun kecintaan terhadap khazanah budaya Sumatera Selatan.

Menurutnya, literasi budaya tidak boleh berhenti pada pengenalan nama tradisi, kesenian, atau peninggalan sejarah. Pelajar juga perlu memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya karena kebudayaan memiliki peran dalam membentuk karakter, kepribadian, dan cara pandang generasi muda.

“Kegiatan ini menjadi wadah bagi peserta didik untuk menggali pemahaman dan kecintaan terhadap kekayaan budaya Sumsel. Kita ingin generasi muda memiliki karakter dan kepribadian yang kuat dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal,” tuturnya.

Likwanyu menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti 50 siswa perwakilan dari 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan dengan didampingi 18 guru pendamping.

Adapun perlombaan yang diselenggarakan meliputi cerdas cermat dan storytelling. Kedua cabang tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menunjukkan penguasaan pengetahuan budaya, kemampuan mengolah informasi, serta keterampilan menyampaikan cerita secara kreatif dan komunikatif.

Untuk menjaga kualitas kompetisi, panitia turut melibatkan dewan juri profesional guna memastikan proses penilaian berlangsung objektif sesuai kemampuan masing-masing peserta.

Likwanyu mengungkapkan, antusiasme peserta menjadi dorongan bagi Disdik Sumsel untuk terus mengembangkan kegiatan literasi budaya di lingkungan pendidikan, khususnya jenjang SMK.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi dapat menjadi program berkelanjutan yang memberikan dampak terhadap peningkatan wawasan dan kepedulian pelajar terhadap kebudayaan daerah.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin setiap tahun. Dengan begitu, semakin banyak pelajar SMK yang mengenal, memahami, dan memiliki kepedulian untuk melestarikan kebudayaan daerah,” ujarnya.

Melalui penguatan literasi budaya, Disdik Sumsel ingin memastikan pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik dan keterampilan, tetapi juga generasi yang memahami identitas daerahnya.

Sebab, warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan melalui dokumentasi dan kegiatan pelestarian. Pengetahuan, kecintaan, serta keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kekayaan budaya Sumatera Selatan tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.