BeritaPalembangTNI-Polri

Di Era Media Sosial, Pelajar Sumsel Dilatih Cerdas Memilih Konten dan Menolak Propaganda Ekstrem

×

Di Era Media Sosial, Pelajar Sumsel Dilatih Cerdas Memilih Konten dan Menolak Propaganda Ekstrem

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, Jurnal10.com  — Satgaswil Sumatera Selatan bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan Wawasan Kebangsaan dengan tema _“Generasi Muda Cerdas Digital Menolak Paham Ekstremisme di Era Media Sosial”_. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 16 Juli 2026 pukul 09.00 s.d 12.00 WIB di lingkungan Kesbangpol Provinsi Sumsel.

Kegiatan ini menyasar langsung pelajar SMA dan SMK se-Kota Palembang. Sebanyak 100 siswa-siswi beserta guru dari 10 sekolah hadir, di antaranya SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, SMAN 15, SMAN 18 Palembang, SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3, SMK Pembina 1 Palembang, dan MAN 3 Palembang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Badan Kesbangpol Prov. Sumsel Drs. H. Arinarsa Jaya Surya yang mewakili Gubernur Sumsel, Kabid Kewaspadaan Nasional Bambang Sukaton, Kasubbid Penanganan Konflik Irawan, Kasubbid Intelijen Irwan Achmad, serta Kasi Tugas Pembantuan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Merry Furnamasari, http://S.Pd, http://M.Pd. Jajaran Satgaswil Sumsel yang bertugas di lapangan adalah IPDA Fachrurozi, S.H, Brigpol Putra Yesa, S.H, M.H, dan Briptu Muhammad Alfarezi, S.H.

Materi pertama disampaikan oleh Merry Furnamasari. Ia menekankan peran pelajar sebagai agen perubahan di era digital. Menurutnya, generasi muda harus mampu menjadi influencer positif di media sosial dan aktif menolak ujaran kebencian, intoleransi, serta propaganda ekstremisme.

“Anak-anak harus cerdas memilih konten. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk karya yang inspiratif, bukan untuk menyebar kebencian,” ujarnya.

Merry juga memaparkan bentuk-bentuk paham ekstremisme di Indonesia dan strategi pencegahannya. Ia mendorong penguatan edukasi di sekolah dan komunitas, kolaborasi dengan lembaga pendidikan, serta pentingnya monitoring dan pendampingan dari guru, orang tua, dan aparat. Harapannya, generasi muda Sumatera Selatan bisa menjadi pelopor digital yang sehat sehingga terwujud lingkungan pendidikan yang aman, masyarakat yang inklusif, toleran, dan berdaya saing global.

Materi kedua disampaikan oleh IPDA Fachrurozi, S.H selaku Katim Cegah Satgaswil Sumsel. Ia mengawali dengan dasar hukum pencegahan dari Densus 88 AT Polri dan mengingatkan bahwa Indonesia berdiri di atas keberagaman agama, suku, dan ras serta 4 konsensus dasar negara.

Fachrurozi memaparkan pentingnya toleransi dan tantangan dalam penguatan Pancasila. Ia juga menyoroti sarana penyebaran radikalisme, tren modus baru aksi teror, dan penyebab pemuda terpapar paham radikal. Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah konsep IRET, bahwa terorisme merupakan sebuah proses.

Ia memberi contoh perilaku intoleransi dan radikalisme yang bisa muncul dalam aktivitas sehari-hari di sekolah, serta dampaknya bagi pelajar. Di tengah tren belajar agama melalui media sosial, Fachrurozi mengajak peserta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap propaganda radikal, termasuk yang menyusup lewat game online, website, dan akun-akun tertentu.

“Keterlibatan generasi muda dalam radikalisme harus kita cegah sejak dini. Kenali, lawan, dan laporkan jika menemukan konten yang mencurigakan,” tegasnya.

Dalam catatan Satgaswil Sumsel, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk mencegah penyebaran paham IRET di wilayah Sumatera Selatan, khususnya di lingkungan sekolah.

Kegiatan berjalan dengan lancar dan baik. Melalui dialog dan diskusi, para pelajar tampak antusias bertanya dan berdiskusi tentang cara menjadi pengguna media sosial yang bijak.