Seputar Sumsel

Bimtek Literasi Informasi di Palembang, Kadis Perpustakaan Sumsel Fitriana: Cakap Cari Informasi, Kritis Menilai, Bijak Mengambil Keputusan

×

Bimtek Literasi Informasi di Palembang, Kadis Perpustakaan Sumsel Fitriana: Cakap Cari Informasi, Kritis Menilai, Bijak Mengambil Keputusan

Sebarkan artikel ini

Jurnal10.com, Palembang – Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan bersama Perpustakaan Nasional RI dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Palembang menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi dengan tema “Cakap mencari informasi, kritis menilai informasi, bijak mengambil keputusan”. Materi disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Fitriana, S.Sos., M.Si, Senin (2/11/2026).

Dalam paparannya, Fitriana menegaskan definisi perpustakaan sesuai UU Nomor 43 Tahun 2007, bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Perpustakaan Sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Fitriana memaparkan 5 peran utama perpustakaan saat ini:

1. Pusat akses informasi yang terpercaya, menyediakan sumber informasi yang akurat dan relevan bagi seluruh masyarakat.
2. Ruang belajar sepanjang hayat, mendukung pembelajaran dari anak-anak hingga dewasa.
3. Pelatihan literasi informasi dan kecakapan digital, untuk meningkatkan kemampuan mencari, memahami, dan menggunakan informasi di era digital.
4. Sumber referensi pendidikan dan pengembangan usaha, mendukung pendidikan, penelitian, dan pengembangan UMKM serta kewirausahaan.
5. Ruang kolaborasi komunitas, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah, sebagai tempat bertemu dan menciptakan inovasi.

“Perpustakaan menghubungkan pengetahuan dengan peluang dan solusi nyata,” ujarnya.

Potensi Literasi Palembang dan Penguatan UMKM

Dalam materi Kota Palembang, Fitriana juga mengangkat 5 Potensi Literasi Palembang yang harus dikenal, dipelajari, dan dilestarikan: Sejarah & Budaya (Rumah Limas), Kuliner (Pempek), Pariwisata (Sungai Musi), Lingkungan, dan Komunitas.

Khusus untuk UMKM, literasi informasi menjadi kunci. Pelaku UMKM diajak untuk memanfaatkan informasi untuk memahami pasar, menentukan harga, memperluas pemasaran lewat media sosial, mengembangkan produk, hingga mengakses program pemerintah.

Aksi Nyata dan Metode 5T Tangkal Hoaks

Untuk menjadikan literasi sebagai kebiasaan, Fitriana mengajak masyarakat mulai dari 4 perubahan sederhana: membaca dan menyelidiki informasi relevan setiap hari, memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, memanfaatkan perpustakaan dan sumber terpercaya, serta berbagi pengetahuan bermanfaat.

Ia juga memperkenalkan Metode 5T untuk Cerdas Menilai Kebenaran Informasi:
T1 Telusuri sumber, T2 Tinjau bukti, T3 Tanggal dan konteks, T4 Temukan pembanding, T5 Tentukan sebelum menyebarkan.

Fitriana mencontohkan fenomena global dimana negara maju seperti Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark kini kembali menggunakan buku cetak dan tulisan tangan di sekolah akibat dampak negatif penggunaan layar yang berlebihan.

Paparan ditutup dengan pengingat Pasal 48 tentang Pembudayaan Kegemaran Membaca, bahwa kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat, yang difasilitasi pemerintah melalui buku murah berkualitas dan penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau. (Adv)